tak se-kokoh di amsterdam

By anagustini

bulir-bulir asin bermunculan dan membanjiri seluruh kulit
terengah mengikuti detak yang semakin cepat
menjengkak, membalik, serta menggeliat mencari titik
angin listrik berputar tak mampu menghentikan detak cepat hawa
raga minta selesaikan surga sesaat
ikuti sampai diujung hingga bulir terhenti
dan jiwa dan tubuhpun tersenyum lega
detak dan bulir -pun sudah mencapai puncaknya
walau tangis neraka akan iringi riang
gejolak atas adam dan hawa telah tercipta
tak seperti air laut yang dapat ditahan di belahan barat sana
oh manusia dirimu tersiksa karena diselimuti kabut penggoda nikmat
tak siap bertarung melawan kabut karena butuh
ikut kabut membuat puas dan lega di alam panggung

3 Tanggapan ke “tak se-kokoh di amsterdam”

  1. kucingkeren Berkata:

    hemmm…amsterdam na mana?

  2. anagustini Berkata:

    Ada atuh sok liat dengan teliti deh

  3. panda Berkata:

    tulisannya padat, sedap dibaca. trimaksih untuk tulisan yang indah ini.

Tinggalkan Balasan