Taukah kau aku seperti diam padahal pelan berlari.
Sadarkah kau semua aku coba padatkan sehingga tak berongga.
Tak melihatkah kau aku sekarang dapat berdiri walau hanya satu kaki.
Taukah kau beribu kata terucap seperti air menetes perlahan sampai dia penuh.
Taukah kau aku biarkan air menetes sampai dia enggan.
Taukah kau air dibiarkan menuju laut untuk kembali temu pantai.
Taukah kau rinduku perlahan mulai terlelap.
Taukah kau sendu itu seperti mudah beterbangan.
Taukah kau semua akan ada akhirnya.
Desember 13, 2007 pukul 11:15 am |
tahukah kau semua akan ada akhirnya katamu
kataku tak ada akhir yang benar-benar menjadi akhir,
yang akhir selalu menjadi awal, yang awal sekaligus akhir
hanya kadang-kadang manusia membutuhkan sebuah akhir
untuk menatap indahnya matahri yang terus memberi hati
Desember 14, 2007 pukul 2:22 am |
akhir tidak berarti hidup akan berhenti.
bahkan akhir di dunia,
adalah awal kehidupan cinta yang terlihat
dengan Kekasih yang Agung.
Kehidupan akan terus berlanjut.
Desember 14, 2007 pukul 2:40 am |
Akhir adalah takdir
awal adalah rajut benang
Bila takdir tak bisa dipungkir
awal dan akhir menjadi gurat
Bila SK sang agung tlah tertulis
tak ada tenaga kuat menentang
Desember 18, 2007 pukul 1:11 am |
mungkinkah akhir kesadaran pada dimensi satu justru menjadi awal keasadaran pada dimensi dua dan dimensi seterusnya ?
sayangnya aku bisa hadir dan memberi komen disini hanya sebatas dimensi satu.
Desember 18, 2007 pukul 1:27 am |
Boleh tau gak Bang Dimensi ke 1 itu seperti apa?
Desember 18, 2007 pukul 1:29 am |
Boleh tau gak Bang Dimensi ke 1 itu seperti apa?
Desember 21, 2007 pukul 9:57 pm |
Jujur, aku tidak tahu jawaban yang pas untuk pertanyaanmu. Kupakai kata dimensi sebenarnya hanya untuk menggambarkan secara mudah bahwa yang namanya realita/kenyataan/kesadaran eksistensi, berlapis-lapis dan berjenjang adanya.
Pada lapis pertama (dimensi pertama) : kesadaran kognitif bahwa kita ada, meruang dan mewaktu.
Pada lapis kedua (dimensi kedua) : kesadaran tentang “dunia” metafisika bahwa eksistensi kita yang melekat dengan ruang dan waktu adalah lantaran kita terikat dengan hukum-hukum fisika bumi (gravitasi, metabolisme, waktu bumi, dll).
Kalau kita sudah lepas dari hukum-hukum fisika bumi (mati/transformasi ke wujud yang bebas secara mutlak dari hukum-hukum fisika bumi/menjadi roh), maka kita akan memasuki “kehidupan/kesadaran eksistensi” pada dimensi metafisika *halah sok bikin teori sendiri*. Nah, pada dimensi ini nggak mungkin dong aku ngasih komen di blog anagustini yang keren ini, ya kan?