Arsip untuk Januari, 2008

keranjingan game

Januari 29, 2008

Bagi saya, sekarang ada waktu senggang sedikit saja akan lebih memilih berkompetisi dengan permainan ini. Game ini memang mengasyikkan. Belajar bahasa inggris untuk benda-benda tertentu ditambah bikin mata sedikit jereng. Kenapa jereng? karena kita harus mencari-cari benda yang dimaksud dalam tulisan game itu.

Pokonya waktu ngeblog jadi berkurang karena lebih sering nge-game. Makanya akhir-akhir ini saya jadi jarang posting, karena lebih demen membuat mata yang indah ini jereng.

(lagi…)

mencari bibit

Januari 24, 2008

susahnya menanam buah hingga ranum.
Pupuk apa gerangan yang bisa membantu.
Hujan,panas dan anginpun tak bisa merubahnya.
Kenapa susah untuk matang.
Salahkah kalau menanam buah.
Kenapa bibit kembang tak kunjung datang, agar merekah dan indah dipandang.
Ah angan-angan itu membuat lelah hingga harus mencari bibit tuk ditanam.
Tapi kalau tidak diberi kenapa memaksa…..

tak berkelok

Januari 24, 2008

berjalan tak berkelok lagi.
Walau desir tetap datang terus mengalun seperti merdu.
Angin melewati setitik seperti harapan tetapi tetap sumbang.
Tetap ingin bisu, di tengah sayup dan aroma menggoda.
Tak ingin membuka hingga sayup dan desiran itu mendinginkan hawa di dalam.
Membentuk irama dan nada yang merdu.

Kpengen ke Jogja lagi

Januari 8, 2008

Tanggal 23 Desember lalu, saya memang pergi ke Yogya. Asik, pengalaman baru setelah 20 tahun lebih tidak mengunjungi kota gudeg itu. Hmmm kota itu membuat saya betah dan ingin berkunjung lagi, begitulah adanya. Belum belanjanya yang murah-murah, juga aneka makanan yang bisa dicicipi dan tak kalah pentingnya catatan sejarah dan budayanya yang bisa kita amati. Lalu lingkungan yang begitu ramah dibandingkan dengan kota Jakarta yang bagi saya sedikit anggang atau jauh. Jakarta ada batas membuat saya tidak nyaman terkadang takut dengan operasi pencopetnya. Dan Yogya menurut saya cukup menarik dan sesuatu yang harus kita banggakan sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia. (lagi…)

Ujung

Januari 7, 2008

Tidak usah hujan karena dia sudah habis.
Menarilahmu dalam kekeringanku.
Kau tetap tunjukkan jalan yang tak pernuh berujung.
Buntupun tak pernah kau hadapi bahkan perjuangkan.
Nyalimulah yang membuat semua berujung.
Ih semua membuat penat, tapi kenapa penat tak membuat lari terbirit.
Susahmu kau siram dan bertumbuh subur.
Hentikan, biar tidurmu lelap.