Pagi itu, setibanya di kantor, tiba-tiba ada telepon masuk ke Hp-ku, halo! Ya Ti, demikian saya menjawab telepon temanku itu. “lagi ngapain”, begitu kata Titi, “gw baru nyampe kantor”, demikian saya cepat menimpali. Dan akhirnya kami hanyut dalam obrolan pagi itu. Dan berakhir dengan kegalauan hati saya.
Gimana tidak, dia temanku sejak dulu jaman kuliah, kami bisa dikatakan besahabat dan sejak dulu sharing apapun yang menjadi masalah kami. Dan pagi itupun saya mendengarkan keluh kesahnya, semuanya yang membuat saya tak tahan untuk tidak meneteskan airmata. Saya sedih dengan kebaikannya, dan perjuangannya untuk menahan beban yang menimpanya.
Apa saya terlalu melankolis atau terlalu cengeng dan terlalu sensitif . tapi saya tidak kuasa menahan beban di dada ini, saya ikut bersedih tetapi sayapun tidak bisa melakukan apapun selain memberikan support dan perhatian yang bertambah dari biasanya. Saya tidak setuju dia mendapatkan cobaan ini.
Saya tidak setuju cobaan yang dia dapatkan berakhir dengan tambahan sakit di raganya pula. Begitu baiknya dia sehingga saya tiba-tiba merasa takut dia tinggalkan. Jangan! orang-orang baik disekitarku hilang… Ya Tuhan tolong usir yang tiba-tiba bersemayam di tubuh temanku itu, yang kata dokter hal ini dipicu akibat stress berkepanjangan dan menggerogoti sehingga memancing hormon menjadi aktif dan sebaiknya dioperasi.
Tapi apakah penderitaan dari jiwanya saja tidak cukup ? Apakah harus diikuti dengan penderitaan fisik yang beresiko dan bisa merambat lebih jauh di tubuh. Ah saya jadi gundah, dan tadi tak kuasa menahan airmata menjalar dipipi setelah dengan panjang lebar dan detailnya dia bercerita. Saya sekarang hanya ingin berdoa khusus untuknya, agar dikuatkan dan diberi ketangguhan untuk tetap bisa mengayomi kedua anaknya.
April 28, 2008 pukul 5:25 pm |
Semoga Tuhan memberinya pencerahan. Dan Ana jangan mencari pnyakit dengan mencemaskan sesuatu yang “nggak bisa diapa-apain” hehehe…
Salam hangat.
Mei 1, 2008 pukul 10:31 am |
Tapi dia masih punya satu keberuntungan: Dia punya anda, sobat yang masih mau simpati untuknya
Benar, bukan?