Arsip untuk Juli, 2008

Seandainya

Juli 12, 2008

Seandainya ada kata yang lebih indah dari “terimakasih” pasti akan aku berikan.

Untuk orang-orang yang membukakan celah sempit dan akhirnya melebar kembali.

Yang telah menahan airmata getir ini menjadi semangat.

Hanya 99 kupu-kupu yang bisa keluar dari mulutku yang kering.

Menunggu kesegaran yang datang dari langit untukmu.

Tunggulah kau senyum dari alam.

Karena air, tanah dan udara sekarang telah menjadi sahabatmu.

Biarkan saja….

Juli 3, 2008

Biar saja aku yang mengalah untuk semesta ini.

Biarkan angin berbuat seindah yang dia pikirkan.

Aku telah menyerah dan kamu pun puas.

hawa gemerutuk dalam dada akan aku tiup.

Tsunami tak akan masuk ke bibir pantai lagi

Aku tak mau lagi berseteru dengan semestamu.

Aku akan berjalan santai di setapak yang damai.

Biarkan aku melangkah walau harus berjinjit.

Tono

Juli 1, 2008

Siang hari bolong, tiba-tiba handphone Tuti berbunyi, “halo, iya saya sendiri oh iya, kenapa bu, hmmm, kapan ? oh….”, demikian pembicaraan itu mengalir . Tuti ternyata diminta untuk datang ke sekolah anaknya untuk mengambil rapot . Tuti adalah ibu dari seorang anak yang bernama Tono. Tuti bekerja di Jakarta, sementara Tono bersekolah di Bandung dan tinggal dengan kakek neneknya. Keadaan yang memaksa mereka sehingga harus berpisah jauh, tetapi apa boleh buat demi kelangsungan hidup, Tuti harus rela berpisah dengan anaknya, Tono. Mereka hanya berkesempatan bertemu dua hari dalam seminggu, selebihnya komunikasi mereka dilakukan melalui telepon. (lagi…)