9 bulan dalam dekapan dan setelah itu tak pernah menoleh kebelakang. Hanya tapak-tapak saja yang kian lama pupus dari penasaran dan harapan. Walau asa terlihat gelap sang 9 tetap semangat, menengok kiri kanan, melonjak-lonjak, tatkala menggoyangkan kaki dengan senyum lebar dan mata berbinar.Duh larapun berganti jadi luapan bahagia terus mengejar, menyongsong ke muka tak peduli untuk yang kosong tak terisi. Kamu hebat, tetap mau tinggi dan cari arti. Teriring bisikanku di setiap aliran darahmu, tetesan keringatmu, dan hirupan nafasmu untuk kumandang 99 kupu-kupu yang selalu mengitari.
Februari 5, 2009 pukul 12:44 pm |
menari, tapi kayaknya kental banget kiasnya. Mungkin perlu dibikin rada jelas sedikit, sehingga orang menangkap pesan utama yang mo disampaikan. Misalnya cerita tentang anak dan kebehagian ibu. BTW, top dah.
Februari 6, 2009 pukul 3:24 am |
Met, kenal sebelumnya gustini on-rumah hati.
Kalau saya menangkap pengambaran bukan sekedar ibu dan anak dalam arti harfiah. Tetapi tentang TUHAN, misalnya 99 itu hitungan asma Allah bukan.