Dia memang hujan sekaligus cahaya yang ada dalam bagian hidupku.Dia selalu menyeringai tatkala hatiku sepi.Dia selalu ingin mendekap saat aku merasa semua adalah neraka. Terimakasih Tuhan atas semua rezeki dan pemberianmu, tanpanya mungkin aku tak akan mendapatkan arti dari kelakar dan sandiwara ini.
Disini di bumi ini aku berpijak, melangkah, berjalan pelan, dan berlari kencang menapaki merah biru dan kuning hidup ini. Ya Robb aku tak akan pernah tau arah kompasMu, kekirikah, lurus atau kanan dengan melaju kencang dan kecepatan tertinggi ataukah dengan kecepatan terendah. Oh sungguh indah permainanmu ini, bagaikan air laut yang kadang bergelombang tinggi memecah pantai dan tiba-tiba tenang ditiupi angin sepoi-sepoi.
Kemanakah hai tujuan ini, laut begitu luas dan aku tak mengenal jalan , yang ada hanya cahaya penerangku untuk berjalan ditengah-tengah hingar bingar, gelap gulita dan deru ombak. Hai kamu ,kamu disitu yang ada disisiku hampir setiap saat, kau bawa kemana ombang ambing ini. Kamu pikir benteng ini tak akan goyah? Hahaha ingin rasanya bergeser dan tak pernah tengok kekanan bahkan tak dengar suara panggilan untuk menoleh. Ombak ini kadang membuat aku mabuk.
Tapaki, “hah tapaki? ”, benarkah itu jawabannya?, aku rasa bukan!, bukan itu. Ombak terlalu besar angin pun tak pernah mengangguk. Lalu mau kamu apa? Yah ikuti semua arah saja. “ikuti?” gak!, gak!, bukan angin yang harus diikuti tapi kompas, iya si kompas itu, kompas yang ada di dalam di tempat terkecil dalam lubuk, ssstt…. tak ada yang tahu di dalam sini dan itu jawaban saat ini. Hai mungil! kamu ternyata sang pelita itu.
Mei 3, 2009 pukul 4:35 pm |
Wah seperti puisi aza nich….
Mei 5, 2009 pukul 12:34 pm |
iiihhhh ternyata bagus banget tulisan loe
dalemmm banget ya
Juni 18, 2009 pukul 8:06 am |
apa kabar dek ?