Arsip untuk ‘Prosa’ Kategori

gairah yang hilang

Mei 6, 2008

Sudah lama gairah ini menghilang, terbang ntah kemana, semua bisu disudut bekunya pikiran. Apakah rutinitas ini yang terlalu menjejali membuat semuanya susah melahirkan kreasi. Adakah gairah itu hanya keluar disaat semua samar-samar dan limbung?. Semestinya ide itu lancar bak air mengalir deras dari atas bukit dan bercabang-cabang mengaliri lembah. Bak air alam merembes keluar memberikan kesegaran di atas panasnya terik.

Sekarang seakan tenggelam, tak lagi membasahi, menutup bak kabut bergulung melingkari. Tapi tak baik terlalu berkeluh, becak ini tetap harus dikayuh dan gairah pun tetap harus ditemukan. Ayo sang gairah datanglah dan keluarlah engkau dari persembunyian. Hidup bagikan tak seimbang dan kosong kala engkau enggan menemani.

Cerita teman

April 19, 2008

Pagi itu, setibanya di kantor, tiba-tiba ada telepon masuk ke Hp-ku, halo! Ya Ti, demikian saya menjawab telepon temanku itu. “lagi ngapain”, begitu kata Titi, “gw baru nyampe kantor”, demikian saya cepat menimpali. Dan akhirnya kami hanyut dalam obrolan pagi itu. Dan berakhir dengan kegalauan hati saya. (lagi…)

Orang-orang kaku

April 4, 2008

Suatu malam pada saat jam makan malam, saya memasuki rumah makan di sebuah mall. “Silahkan, berapa orang mba?”padahal jelas-jelas saya masuk rumah makan itu seorang diri, saya bilang ,” dibungkus saja”sambil ngeloyor ke arah pojok khusus untuk yang dibungkus. Mba kasir itu dengan setengah berteriak berkata, ” silahkan mau pesan apa?”, begitu ujar si kasir dengan wajah kaku dan berkesan formal tanpa senyum, “Nasi ayam”, singkat saja saya bicara. “Ada tambahan lain, atau ditambah pangsitnya, mungkin?”, saya menggeleng dan setelah kasir itu bicara lantang lagi, seperti diatur menyebutkan harga yang harus dibayar, kemudian sayapun melakukan pembayaran dan segera duduk, “silahkan tunggu”, lantang, seolah dia yang berkuasa dan saya merasa tidak jadi seorang pembeli, tetapi hanya sebagai seorang terdakwa yang menunggu panggilan untuk didakwa. Sambil menunggu, saya membaca koran Tempo hari itu yang sudah basi. (lagi…)

Macao dan oh Indonesia (2)

Maret 24, 2008

Mari kita liat lagi apa yang dilakukan oleh daerah administrasi khusus ini dalam mempercantik kotanya. Macao di tahun 2007 membuat suatu tempat “One stop service” yang memudahkan para wisatawan untuk berjudi, menginap di hotel yang mewah dengan 3000 kamar suite dan kemudian tempat untuk berbelanja yang dilengkapi dengan 350 tempat belanja dengan brand yang terkenal ditambah restaurant-restaurant untuk mengisi perut dikala keroncongan. The Venetian Macao dibangun dengan gaya arsitek rainessance bertemakan Venice yang mengetengahkan replikanya, seperti gondola dan pengayuh gondola yang bernyanyi dengan suara sofran di tengah tengah aliran air sungai yang bisa kita nikmati sambil berbelanja. Lantai casino dengan luas 550.000 squarefeet (sqf) merupakan yang terbesar di dunia dan memiliki 870 meja permainan dan lebih dari 3.400 mesin slot.Nah kurang apalagi the Venetian ini. (lagi…)

Macao dan oh Indonesia (1)

Maret 24, 2008

Saya tertegun dan kemudian desir amarahpun mengalir sedikit demi sedikit dan akhir nya menderas. Melihat dan membandingkan Macao dengan tempat dimana saya lahir. Beruntung saya diberi kesempatan untuk berkunjung di suatu kota bagian dari Negara Cina, yaitu Macao. Macao kota yang tak pernah berhenti di malam hari terutama bagi para penjudi. Wisatawanpun tidak perlu khawatir dengan keamanan di malam hari. Pemerintah menjamin keamanan untuk para pendatang dan menjamin kota judi ini secara hukum, bahkan yang membuat saya terkaget-kaget adalah toko-toko jam tangan dan perhiasan selalu buka selama 24 jam, bahkan pernah di jam 02.00-03.00 pagi saya masih melihat para wanita berjalan sendiri di tengah-tengah sepinya malam dengan santai tanpa ada keraguan akan rasa takut sedikitpun. Hebat dan kenapa ini tidak terjadi di tempat saya lahir yang pastinya saya tidak akan berani berkeliaran sendiri di pagi buta seperti itu. (lagi…)

KEgilaAan

Maret 6, 2008

Hentikan kegilaan ini, hentikan kecepatan ini. Sadarilah semua hanya mendaki keambisian saja. Saya bingung dan saya penat. Kalau mau makanlah makanan itu saya enggan, tak tertarik, tidak mau menjamah, aku malas.
Amanat dan atas sesuap nasi menjadi iringan untuk para sang ambisius disana, tak pernah puas, tak pernah merasa bagus. Demi sang prestasi demi nasi yang semakin berharga mahal semua memang jadi terpaksa harus diperjuangkan. (lagi…)

Dari seorang sahabat

Maret 4, 2008

Seorang sahabat merenung merasa terbuang bak seonggok sampah. Tetapi seandainya mereka itu menyadari ada dua kacamata yang bisa dilihat, disisi lain dia telah diberi sebuah toleransi serta harapan baru untuk tetap dipahami dalam sebuah semangat. Dan disisi lain rasa kotor dan tak berdaya atas cemoohan serta cibiran. Semua tergantung kacamata itu.Memang berat untuk bisa merasakan dan memakan buah pahit yang telah kita tanam. Kita tetap harus menikmati dan memakannya, tidak manis dan selalu merasa merah padam.Walau sebenarnya mereka bertujuan menggapai manis. (lagi…)

setiap nafasmu

Maret 4, 2008

Tidurlah engkau dalam dekapan nafasku
Dan benamkan kepalamu di air susumu
Nyamankan hati di pelukan sang pemberi darah
waktu kita hanya tiga kali dekapan
Dan pagi buta saatnya kita berjarak
Perpisahan itu tak berarti berbeda sungai
Hanya untuk mendaki keinginan
janganlah kau sambut sedihmu, karena senyummu adalah bahagiaku
tetaplah yakin bahwa ujung itu adalah untuk senangmu
usah kau risau,hatiku tetap ada dalam ronggamu
tetesan pilu itu bukan penyendat langkah
berjuanglah dalam bayang dekapanku
jadikan semua aroma ini adalah semangatmu
doaku selalu terselip dalam setiap nafasmu

keinginan yang tak terpenuhi

Februari 27, 2008

Sayang sekali keinginan itu tidak bisa terpenuhi. Saya tidak bisa membawakan laki-laki itu kopi. Padahal kerjaan yang menumpuk membuat dia penat dan kopi akan sedikit mengusir galau. Ruangan itu,  dengan meja panjang serta kursi disekelilingnya. Untuk apa dia disana hanya menunggu secangkir kopi. Kopi itu tak akan datang, sang pembawa tak akan ke ruangan. Dia harus segera pulang dan menuju sang empuk dengan badan dilapisi hangat selimut. Tak usah risau dengan keinginan kopimu. Besok pun masih ada kesempatan di kopi yang lebih nikmat. Dan keinginan itu tidak harus selalu kau lampaui.

Kalau saja bisa kuhentikan waktu

Februari 27, 2008

barangkali semua masalah bisa terselesaikan.
rutin pun tak  akan berulang-ulang.
nafsu hilang dan hanya ada nafas di oksigen lain.

kalau saja tempat tenang itu di depan mata
terbayang damai, walau syarat harus dilampaui.
tak apa, timbangan akhirnya yang  menentukan.
disana indah tak ada cemas, seperti apa yah gerangan tempatnya