Ternyata jauh

Juni 13, 2008 oleh anagustini

Ternyata jauh untuk ke puncak ,

tak paham kapan giliranku disana

Keinginan menjadi mimpi saja.

Merinding dan dingin di terik dan panasnya cahaya yang katanya abadi.

Kegagalan tak pernah berujung

Duh dingin dan membekukan hati.

Cucuran air dipelupuk-pun terasa beku ditiup dingin.

jalan entah dikanan, dikiri, didepan ataupun dibelakang.

Meringkuk disudut menjadi indah, berjalan pun serasa diseret,

Rapuh adalah sahabat kental.

Boleh beri aku sentuh agar tak temaram,

legakan jiwa agar tak tertatih.

Beri senyum agar sampai puncak .

Kembalikanlah kukuh itu.

terakhir

Juni 8, 2008 oleh anagustini

Selesai sudah berkelana di siang yang tak bercahaya.

Cahaya tidak bisa dipaksakan dari sudut ini.

Jangan buat dungu menunggu cahaya yang tak menjemput

Hanya orang nganga cari cahaya di laut terdalam.

Carilah cahaya dari jurusan dan arah di penjuru lain

Cahaya yang beri kepastian hangat

Cahaya yang melindungi dan menyelimuti dirimu.

gak ngerti

Juni 4, 2008 oleh anagustini

Benar, kamu tidak ngerti walau diberi ngerti. Kamu hanya ngerti kalau orang harus ngerti .Kamu gak pernah ngerti kalau sebenarnya kamu harus beri ngerti.Kamu tetap anggap kamu sudah beri ngerti. Ngerti bagi kamu adalah tidak ngerti. Sampai mati kamu ga mau beri ngerti tapi kamu kenyang terima ngerti.

ngerti

Juni 3, 2008 oleh anagustini

kau hanya ingin menerima tidak memberi

anggap bahwa kau yang harus diberi ngerti,

tak peduli orangpun perlu diberi ngerti.

Dan kaupun harusnya bisa memberi ngerti.

Air

Juni 3, 2008 oleh anagustini

Air itu perlahan mendekati panas dan bara.

Tapi sayang, api pun enggan bersalaman dengan sang air.

Api masih bersembur ganas,semakin panas, tersayat dan murka.

Air datang hanya memancing semburat bara.

jernihkan dirimu air, dan beri tulusmu sehingga api berujung padam

Api

Mei 30, 2008 oleh anagustini

Api ini rasanya sulit dipadamkan dan akan tersimpan dalam rongga sampai kapanpun. Tiada air untuk api, biarkan dia berkobar dan lekang bersama tumpukan puing asa . Bahkan sampai jaman diujungpun biarkan menyala penuh bara. Dan tiada lagi setitik airpun untukmu.

Sandiaga Uno

Mei 30, 2008 oleh anagustini

“Rahasia Sukses Para profesional Muda, demikian judul seminar sehari yang diselenggarakan oleh group Tempo media dalam sesi acara Tempo Community di hotel Aston Senen, hari kamis 29 Mei 2008 lalu. Kebetulan Saya turut hadir dalam acara ini sampai selesai, meskipun tidak dari awal. Tetapi cukup memberikan masukan, motivasi serta wawasan kedepan yang lebih luas. Terutama dari seorang pengusaha terkenal Sandiaga Uno yang saat itu menjadi salah satu pembicara. Baca entri selengkapnya »

Bill Gate

Mei 12, 2008 oleh anagustini

Beritanya dimana-mana, Om Bill akhirnya membalas kunjungan presiden SBY sewaktu ke kantor besar Microsoft di Amerika sana Selain untuk mengunjungi 56 karyawan yang bekerja, SBY juga berkepentingan untuk bertemu Bill Gate dalam upaya mengundang untuk datang ke Jakarta dalam penyelenggaraan GLF di Indonesia, seperti permintaan dalam surat yang dikirim SBY dua tahun lalu. Baca entri selengkapnya »

gairah yang hilang

Mei 6, 2008 oleh anagustini

Sudah lama gairah ini menghilang, terbang ntah kemana, semua bisu disudut bekunya pikiran. Apakah rutinitas ini yang terlalu menjejali membuat semuanya susah melahirkan kreasi. Adakah gairah itu hanya keluar disaat semua samar-samar dan limbung?. Semestinya ide itu lancar bak air mengalir deras dari atas bukit dan bercabang-cabang mengaliri lembah. Bak air alam merembes keluar memberikan kesegaran di atas panasnya terik.

Sekarang seakan tenggelam, tak lagi membasahi, menutup bak kabut bergulung melingkari. Tapi tak baik terlalu berkeluh, becak ini tetap harus dikayuh dan gairah pun tetap harus ditemukan. Ayo sang gairah datanglah dan keluarlah engkau dari persembunyian. Hidup bagikan tak seimbang dan kosong kala engkau enggan menemani.

Cerita teman

April 19, 2008 oleh anagustini

Pagi itu, setibanya di kantor, tiba-tiba ada telepon masuk ke Hp-ku, halo! Ya Ti, demikian saya menjawab telepon temanku itu. “lagi ngapain”, begitu kata Titi, “gw baru nyampe kantor”, demikian saya cepat menimpali. Dan akhirnya kami hanyut dalam obrolan pagi itu. Dan berakhir dengan kegalauan hati saya. Baca entri selengkapnya »