seperti burung

Bahagiapun sebetulnya bisa kita dapatkan, damai akan dapat kita rasakan juga, janganlah kita selalu marah bahkan bersedih, jangan berputus asa lapangkanlah hingga sirna sesak di dada, lepaskan semua angkara maupun dengki, serta dendam. Semua yang seharusnya adalah milik dan rejeki kita pasti akan kembali kepada kita kalaupun semua bukan menjadi milik kita, mungkin Alloh tidak meridoi dan mengikhlaskannya atau hal ini memang bukan yang terbaik buat kita.

Jadi bersabar dan bertawaqallah dalam menghadapinya. Tidak usah takut, tidak usah mendendam dan membalas dengan rasa emosi biarkan semua lepas melayang dengan kepasrahan tidak menjadi beban dalam diri dan pikiran kita, biarkan melayang seperti burung. Bebas dan lepas. Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi kita, walaupun untuk kita sepertinya merupakan sesuatu yang berat dan tidak baik. Tetapi bagaimana kita menjalaninya sehingga semua bisa berjalan dengan lancar dan baik-baik saja. Kehidupan dan rutinitas yang harus dilakukan pun bisa berjalan dengan normal kembali.


Bayangkan bila diri kita selalu berkecamuk dengan rasa dendam bahkan bisa membuat kita menjadi sakit seperti pusing, darah tinggi, maag dan memicu stress, semua hanya menyiksa diri kita saja. Padahal kita ini dikasih diri adalah sebagai amanat dan titipan dari Alloh Swt yang harus tetap di jaga serta tidak disia-siakan. Maka jagalah titipan ini semua, karena yang ada dalam diri kita sebetulnya bisa terenggut dengan mudah dan cepat jika Alloh menghendaki. Karena semua adalah milik-Nya. Hanya bersabar, bertawaqal serta setuju dan menerima yang sudah kita dapatkan selama ini. Terimalah semua ini sebagai ujian dan cobaan jika memang tidak sesuai keinginan kita ataupun bersyukur jika sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kendalikan diri kita itu adalah kuncinya.


Mari sekarang kita bedah sesuatu yang bisa memberikan pemahaman tentang pengendalian emosi dan konsep diri. Setiap manusia punya sesuatu yang bisa disebut dengan istilah faktor kesuksesan dan faktor ketidaksuksesan. Faktor sukses itu misalnya punya kemauan keras, kejujuran, baik hati sama orang lain (helpful), kejelasan dalam melangkah, kegigihan dalam memperjuangkan tekad, disiplin, percaya-diri, dan seterusnya. Sedangkan faktor ketidaksuksesan itu misalnya: keminderan, kecil hati, penyimpangan moral, kemalasan, kekacauan, keputusasaan, konflik, dan seterusnya.

Konsep diri adalah bagaimana kita mempersepsikan diri kita. Menurut kesimpulan Dr. Maxwell Maltz, tindakan manusia itu erat kaitannya dengan bagaimana manusia itu mendefinisikan dirinya. Persepsi dan definisi-diri ini ada yang positif ada yang negatif. Ada yang mendukung atas munculnya success-factors dan ada yang mendukung munculnya failure-factors. Ada yang merusak dan ada yang membangun. Ada yang lemah dan ada yang kuat.

Menurut Harter (1991), pengaruh konsep-diri yang paling besar itu pada dua hal, yaitu:Afeksi dan Motivasi. Afeksi mengarah pada kondisi emosi seseorang. Konsep-diri positif akan berpengaruh atas munculnya emosi positif, seperti kebahagian, kepuasaan, dan seterusnya. Sebaliknya, konsep-diri negatif akan berpengaruh pada munculnya emosi negatif, misalnya kesedihan, tekanan, depresi, dan seterusnya. Emosi positif akan memunculkan harga-diri positif sedangkan emosi negatif kerap menjadi sumber harga diri negatif. Harga diri negatif inilah yang kerap menjadi biangnya kerusakan emosi.

Kerusakan emosi sehingga keluar rasa dendam, ingin membalas, mengacak-acak suasana misalnya saja seseorang dendam dan tidak mampu mengembalikan situasi yang pernah dia alami sebelumnya, lantas supaya bisa mengejawantahkan dendamnya dia memancing sesuatu untuk membalas dendamnya, mengekspresikannya dengan berbagai cara, bahkan melakukan pembohongan diri dengan maksud ingin kelihatan lebih baik sehingga justru akan memperlihatkan kegagalan dalam dirinya.Hal seperti ini akan membuat seseorang begitu tambah tidak menarik, menyebalkan, dijauhi dan tidak disukai karena konsep diri yang keluar adalah emosi negatif.

Misalnya saja bila seseorang mengalami sakit hati tetapi dia justru memperlihatkan kecerdasan pengendalian emosinya misalnya bersabar, tidak berusaha membalas dendam, tidak mengancam ataupun teror dan juga berusaha tidak menjadi manusia cengeng, putus asa dan serasa hidup ini tidak ada artinya jika saya tidak mendapatkan apa yang dia inginkan . Bahkan Tidak mencari cara-cara untuk memperkeruh dan memperlihatkan dendamnya. Misalnya dengan tindakan kekerasan, ancaman atau sesuatu yang tidak memperlihatkan etika dan cenderung kampungan.

Disakiti serta dikhianati memang terasa sakit bak luka yang menganga, tetapi kalo kita memiliki kecerdasan emosi yang lebih baik maka dia akan cepat dapat merecovery kesedihannya dan kemudian dia akan melakukan hal-hal yang lebih positif untuk dirinya. Si luka pun akan menutup kembali. Tetapi ini terjadi pada orang yang bisa berkompromi dengan dirinya. Sehingga dia tidak membuat semuanya menjadi beban hidup. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang justru lebih melukai dirinya. Ataupun sesuatu yang membuat dia tambah menyakiti sampai merusak ke badan dia sendiri. Atau terus-terusan berkutat dalam masalah itu. Kan memang sebaiknya kita yang tertimpa itu berusaha membebaskan diri dari masalah, melangkah kembali menata hidup lebih baik karena banyak yang bisa diperbuat dari sekedar hanya berkutat dengan masalah yang itu-itu aja. Akhirnya kita bisa frustasi dan depresi karena hidupnya berkutat dalam dendam, membalas dendam, dan tidak menerima kenyataan ingin tetap mendapatkan apa yang diinginkan dengan segala cara dan tanpa disadari membuat dirinya tambah kelihatan semakin buruk saja. Coba apa yang terjadi dengan penampilan nya? kusut kan? , aura yang muncul pun adalah aura negatif dan membuat diri kita semakin tidak menarik. Kusut.

Coba lah untuk lebih realistis dan obyektif dalam memandang persoalan yang sedang dihadapi agar pada akhirnya apa yang dilakukan tidak merusak kehidupan kita sendiri dan kehidupan orang lain. Sebab, bagaimana pun juga bagi kaum wanita, akan lebih sulit untuk tidak melibatkan emosi secara mendalam terhadap sang pria karena memang wanita lebih sensitif dan emosional dibandingkan pria yang sering dikatakan rasional

Curahkanlah segala perasaan, kepahitan dan kekecewaan kita pada Tuhan, karena pada akhirnya Tuhan pasti akan membantu kita mengatasi kerumitan hidup jika kita memang benar-benar menghendakinya.

Akhirnya jika kita sudah bisa memasrahkan diri, bertawaqal, bersabar dan bisa mengendalikan emosi, Kita akan merasakan betapa ringannya hidup kita, melayang kembali, lepas, terbang seperti burung dengan bulu yang semakin berkilau diiringi sinar mentari dan sepoi angin. Membuat langkah yang lebih pasti. memang tidak semudah dikatakan, tetapi tuhan tidak akan merubah nasib kita jika kita tidak berusaha merubah. Satu lagi Tuhan pun benci pada umatnya yang terlalu memaksa dengan semua yang dia inginkan adalah harus, harus, dan harus, sementara sesuatu yang tidak diridoi Alloh, belum tentu buat kita maslahat.

Tentang anagustini

Semua bisa kecil tapi kalo semua berfungsi dengan baik, kenapa tidak.
Pos ini dipublikasikan di Prosa. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s