Malam 29

Tidak terasa sudah 28 hari kita melewati hari-hari penuh berkah, menahan hawa nafsu tidak hanya lapar dan haus tetapi kesabaran dan emosi kita. Sebentar lagi hari kemenangan itu akan segera tiba, kepasrahan diri, permohonan ampunan, saling bersih dan suci dan begitu lebih dekat dengan sang khalik karena tiada henti-hentinya kita beribadah selama ramadhan dalam proses mensucikan diri kita. Idul Fitri mengawali  kembali perjalanan serta ujian yang akan diberikan oleh-Nya.

Semalam, malam ke 29, malam terakhir ganjil di bulan Ramadahan sungguh indah dan damai. Ditengah-tengah hiruk pikuk dan kesibukan orang perseorangan, mereka berdoa, mereka berdzikir, mereka melakukan salat malam dan mereka menunggu sang jibril serta para malaikat datang untuk menyelesaikan urusan, urusan manusia, manusia seperti kita untuk keselamatan dunia akhirat dan menjauhi neraka.


Malam itu berangkat dari peraduan menuju Al-Azhar, saya dijemput berjalan menyusuri keremangan malam, ada sedikit rasa takut, huh dasar penakut. Gelap, dan diportal sehingga harus menyusuri jalan setapak menuju mobil yang diparkir dekat portal. Sampailah di mesjid al-azhar, mesjid penuh sejarah. Kita menuju ke dalam mesjid itu, dan suasana kehangatan begitu merasuk.

Suasana ramai, pikuk dan hangat, seolah tiada batas, begitu dekat. Kita menuju tempat berwudlu dan melakukan salat sunat mesjid. Kemudian tadarus serta berdzikir, berdoa, memohon bantuan kepada para  malaikat dan sang jibril. Akhirnya tibalah saatnya Qiyamullail atau salat malam. Seperti malam-malam sebelumnya dan diakhiri dengan witir, kemudian sahur bersama walau hanya ditemani sate ada ketidakpuasan dengan rasanya, tapi hati tak terganggu menunggu waktu imsak sambil tiduran, kemudian adzan subuh-pun tiba. Kita solat berjamaah dan setelah itu ada tausyiah dan mendengarkan bahkan matapun sudah tidak berpihak, terlelap untuk sesaat. Begitulah sekelumit cerita itikaf di hari ke-29, kita berdoa untuk kita, memanjatkan syukur dan memohon perlindungannya.


Walaupun tidur hanya terasa sekejap, mata berat dan memang sempet terlelap pada saat mendengarkan tausyiah. tertidur sampai matahari menguakkan cahayanya, dan akhirnya ada tangan -tangan dan dia bangunkan saya, padahal diapun semenjak malam kerjanya tidur, rasa kantuk tak terhindarkan. Matahari mulai memunculkan kehangatannya. Kita beranjak pergi, ada beberapa rutinitas yang harus diselesaikan walaupun idul fitri sudah diambang pintu.

Diperjalanan mampir ke kantor bukan saya tapi ada yang mau ambil sesuatu, kelihatannya penting, mengantuk ingin cepat merebah, tapi urusan memang harus diselesaikan, saya kan nebeng, yaa kan mas???? dan akhirnya menuju tempat peraduan lagi, bahagia  tertidur 1-2 jam dan jam 9 pagi harus segara miting. Malas . Tapi harus. Tidak bisa menolak.

Tentang anagustini

Semua bisa kecil tapi kalo semua berfungsi dengan baik, kenapa tidak.
Pos ini dipublikasikan di Ilahi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s