Pasrah

Pada awalnya saya tidak menerima dengan apa yang saya dapatkan sekarang ini. Tetapi kemudian saya berdoa sepanjang siang, malam tanpa henti dan lelah meminta kepada-Nya. Dan saya pun belum merasakan apa yang menjadi jawaban dari doa itu. Saya tetap tidak mendapatkan apa yang saya mau.Saya berpikir bahwa Tuhan tidak menyetujui dan meridoi dengan apa yang saya pinta. Mungkin Tuhan berkata “Itu tidak bagus buat kamu, kamu akan susah, sedih dan tidak temu bahagia”.

Uuh berat menerima kenyataan yang seharusnya kalo mengikuti keinginan saya ingin mendapatkannya. Susah memang dan tidak semudah dikatakan akan kata hati, emosi yang berkecamuk dalam gejolak di dada, tuk terima kenyataan.


Tapi apakah kita akan tetap berkutat dengan permintaan itu, tidakkah semua hanya membuang waktu serta pikiran kita? “sudahlah kau jangan memaksa”, begitu kata-Nya. Sesuatu hal yang dipaksakan tidak menghasilkan sesuatu yang baik.


Suatu saat saya berpikir dan berpikir terhadap semua yang saya inginkan dan akhirnya saya menemukan jawaban. Saya berdoa dan ngobrol kembali dengan-Nya. Saya meminta hal lain lagi tapi hal yang diminta adalah “kepasrahan”. Saya pasrah terhadap keputusan-Mu, saya ingin terbaik dimataMu juga saya, saya ingin mendapatkan yang lebih baik dari semua yang saya dapatkan sekarang, saya hanya ingin rido-Mu apapun itu saya akan terima. Demikian obrolan saya kepada-Nya.

Kemudian waktu terus menggelinding, cepat dan cepat bagaikan roda mobil berputar dengan kecepatan 120 km/jam. Dengan hati sumringah, memandang semua dengan positif, semua selalu indah dan kalaupun buruk, jelek, bau, kotor, saya coba bersihkan di dalam hati dan pikiran saya. Saya ingin tenang tidak terbebani. Saya memilih damai dan pasrah serta menerima.

Demikian saya lalui, saya hindari marah, saya redam emosi saya tertunduk jika marah, saya basuh tatkala angkara datang. Semua adalah perjuangan, tetapi semua saya jalani dengan itikad damai. Rumput diratakan, tanaman hatipun disirami dengan percikan percikan kesegaran.

Dan pada akhirnya saya menemukan jawaban kembali. Inikah hasil obrolan saya dengan-Nya? inikah sesuatu yang menurut dia terbaik, inikah yang sesuai dengan ridhoNya?. Mungkin ini yang diberikan untukku. Tetapi kenapa keluar beribu pertanyaan dalam benak, “Kenapa yang dikatakan Tuhan baik ko rasanya malah secara dunia dan dimataku adalah tidak lebih baik dari yang saya terima sebelumnya”.

Termenung, bingung. Kembali harus menerima apa yang menjadi jawaban NYA. Kembali harus menerima, bersyukur terhadap apa yang diberikan. Kepasrahan sudah merupakan kemutlakan dalam hidup. Mungkin ini garis tangan. Ini sesuatu yang optimal dan merupakan bagianku dari Alloh semenjak lahir kedunia, sudah ada SK dan tidak bisa diganggu gugat.
Beribu pertanyaan bergulung-gulung layaknya benang yang semakin kusut. Seperti ombak datang menuju pantai, seperti matahari yang tidak pernah malu tuk bersinar terang, ada siang juga malam, ada gelap dan terang. Saya tidak pernah mengerti akan rahasia disana. Saya bingung mencari dan apa yang dicari.

Apakah saya harus mencari waktu lagi untuk ngobrol denganNya, diantara SK yang sudah saya dapatkan sejak lahir?

Tentang anagustini

Semua bisa kecil tapi kalo semua berfungsi dengan baik, kenapa tidak.
Pos ini dipublikasikan di Ilahi. Tandai permalink.

4 Balasan ke Pasrah

  1. kucingkeren berkata:

    Konon, Tuhan akan memberi apa yg kita butuhkan, bukan yang kita ingini.. (keculai kalau yg diinginkan itu adalah yg dibutuhkan).. masalahnya, apakah kita tahu apa yg kita butuhkan?

  2. Ana Gustini berkata:

    Ya kita tidak mengerti apa yang kita inginkan dan apa yan kita butuhkan selama ini. Sepertinya keinginan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan jatah dari-Nya.

  3. ira berkata:

    Sebenarnya kita sekarang adalah apa yang dulu kita pikirkan dalam ketakutan, namun justru terjadi.. so, be positive! maka masa depan kita akan datang yang baik-baik saja, karena Allah akan berkehendak seperti yang kita sangkakan kepadaNya, jika kita berfikir buruk (ragu-ragu) maka akan buruklah yang datang, tp jika kita berfikir baik, maka akan terwujud pula itu..

  4. milikicinta berkata:

    Allah jangan dirumuskan, bahwa kalo kita gene Dia pasti gene, kalo kita gitu Dia juga pasti gitu. Dia berkehendak, apapun jua, di luar kuasa manusia. berbaik sangka itu kepadaNya, bukan terhadap nasib kita. setuju, pasrah dan tak henti berharap…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s