Merebah

Entah, tiba-tiba mengecewakan, tiba-tiba serasa ada racun, racun amarah, menggerayangi jiwa walau bathin masih tegap dan menyala, tidak dibuat berkumpul dan tersembur. Biarkan mengalir perlahan dengan desiran nafas hingga habis. Tikus, serasa ada dikepala mencubit – cubit sampai rambut terasa mau lepas, sakit, sakit sekali duh…..


Menelan pil pahit agar rambut kembali, tapi tak kunjung hilang, tikus dikepala malah tambah banyak, menggigit apalagi menjelang sore tambah menyiksa. Ada apa gerangan dalam jaringan otak ini. Berobat. Tidak ada waktu, waktu terlalu cepat, selalu terbuang, kemanakah engkau lari, tak terkejar.

Sore hari tiba, harus segera berdiri dan beranjak, untuk merebah agar pening reda. Mungkin selain tikus pusing adalah karena kepengapan udara tak bisa bernafas, bergulung asap, seperti di ruangan 3 X 3 dan atmosfir penuh tak bisa tertembus, udara kembali lagi kebawah, menjadi panas. Merebah jadikan obat penghancur tikus. Sungguh mungkin akan membuat nikmat dan bersyukur atas karuniaNya.

Tentang anagustini

Semua bisa kecil tapi kalo semua berfungsi dengan baik, kenapa tidak.
Pos ini dipublikasikan di Prosa. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Merebah

  1. nara berkata:

    Bahkan ikan yang tidak pernah terpejam pun, tetapi menyisakan waktu untuk tidur. Tidur adalah gapura surga. Di sana biasa berseliweran pesan dan wejangan. Namun satu yang pasti, tidur mengajari kita untuk mengakui keberadaan kita aman di tanganNya.

    Dan.. mujarab mengusir tikus yang riang berdendang di kepala. busyet… tikus bo. sadis amat perumpamaannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s