taukah kau

Taukah kau aku seperti diam padahal pelan berlari.
Sadarkah kau semua aku coba padatkan sehingga tak berongga.
Tak melihatkah kau aku sekarang dapat berdiri walau hanya satu kaki.
Taukah kau beribu kata terucap seperti air menetes perlahan sampai dia penuh.
Taukah kau aku biarkan air menetes sampai dia enggan.
Taukah kau air dibiarkan menuju laut untuk kembali temu pantai.
Taukah kau rinduku perlahan mulai terlelap.
Taukah kau sendu itu seperti mudah beterbangan.
Taukah kau semua akan ada akhirnya.

Tentang anagustini

Semua bisa kecil tapi kalo semua berfungsi dengan baik, kenapa tidak.
Pos ini dipublikasikan di Sajak. Tandai permalink.

7 Balasan ke taukah kau

  1. patrianila berkata:

    tahukah kau semua akan ada akhirnya katamu
    kataku tak ada akhir yang benar-benar menjadi akhir,
    yang akhir selalu menjadi awal, yang awal sekaligus akhir

    hanya kadang-kadang manusia membutuhkan sebuah akhir
    untuk menatap indahnya matahri yang terus memberi hati

  2. Danny berkata:

    akhir tidak berarti hidup akan berhenti.
    bahkan akhir di dunia,
    adalah awal kehidupan cinta yang terlihat
    dengan Kekasih yang Agung.
    Kehidupan akan terus berlanjut.

  3. Ana Gustini berkata:

    Akhir adalah takdir
    awal adalah rajut benang
    Bila takdir tak bisa dipungkir
    awal dan akhir menjadi gurat
    Bila SK sang agung tlah tertulis
    tak ada tenaga kuat menentang

  4. tobadreams berkata:

    mungkinkah akhir kesadaran pada dimensi satu justru menjadi awal keasadaran pada dimensi dua dan dimensi seterusnya ?

    sayangnya aku bisa hadir dan memberi komen disini hanya sebatas dimensi satu.

  5. anagustini berkata:

    Boleh tau gak Bang Dimensi ke 1 itu seperti apa?

  6. anagustini berkata:

    Boleh tau gak Bang Dimensi ke 1 itu seperti apa?

  7. tobadreams berkata:

    Jujur, aku tidak tahu jawaban yang pas untuk pertanyaanmu. Kupakai kata dimensi sebenarnya hanya untuk menggambarkan secara mudah bahwa yang namanya realita/kenyataan/kesadaran eksistensi, berlapis-lapis dan berjenjang adanya.

    Pada lapis pertama (dimensi pertama) : kesadaran kognitif bahwa kita ada, meruang dan mewaktu.

    Pada lapis kedua (dimensi kedua) : kesadaran tentang “dunia” metafisika bahwa eksistensi kita yang melekat dengan ruang dan waktu adalah lantaran kita terikat dengan hukum-hukum fisika bumi (gravitasi, metabolisme, waktu bumi, dll).

    Kalau kita sudah lepas dari hukum-hukum fisika bumi (mati/transformasi ke wujud yang bebas secara mutlak dari hukum-hukum fisika bumi/menjadi roh), maka kita akan memasuki “kehidupan/kesadaran eksistensi” pada dimensi metafisika *halah sok bikin teori sendiri*. Nah, pada dimensi ini nggak mungkin dong aku ngasih komen di blog anagustini yang keren ini, ya kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s