tak berkelok

berjalan tak berkelok lagi.
Walau desir tetap datang terus mengalun seperti merdu.
Angin melewati setitik seperti harapan tetapi tetap sumbang.
Tetap ingin bisu, di tengah sayup dan aroma menggoda.
Tak ingin membuka hingga sayup dan desiran itu mendinginkan hawa di dalam.
Membentuk irama dan nada yang merdu.

Tentang anagustini

Semua bisa kecil tapi kalo semua berfungsi dengan baik, kenapa tidak.
Pos ini dipublikasikan di Prosa, Sajak. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s