Macao dan oh Indonesia (1)

Saya tertegun dan kemudian desir amarahpun mengalir sedikit demi sedikit dan akhir nya menderas. Melihat dan membandingkan Macao dengan tempat dimana saya lahir. Beruntung saya diberi kesempatan untuk berkunjung di suatu kota bagian dari Negara Cina, yaitu Macao. Macao kota yang tak pernah berhenti di malam hari terutama bagi para penjudi. Wisatawanpun tidak perlu khawatir dengan keamanan di malam hari. Pemerintah menjamin keamanan untuk para pendatang dan menjamin kota judi ini secara hukum, bahkan yang membuat saya terkaget-kaget adalah toko-toko jam tangan dan perhiasan selalu buka selama 24 jam, pernah di jam 02.00-03.00 pagi saya masih melihat para wanita berjalan sendiri di tengah-tengah sepinya malam dengan santai tanpa ada keraguan akan rasa takut sedikitpun. Hebat dan kenapa ini tidak terjadi di tempat saya lahir yang pastinya saya tidak akan berani berkeliaran sendiri di pagi buta seperti itu.

Macao sekarang telah menjadi salah satu obyek wisata pilihan mancanegara, kota judi yang legal secara hukum selain Las Vegas. Bayang kan tahun ini wisatawan yang berkunjung sudah mencapai 40 juta per tahun. Menakjubkan bukan?. Coba bandingkan dengan Indonesia, untuk mencapai 6 juta saja susahnya minta ampun. Indonesia masih memerlukan perbaikan dari segala lini. Hanya dengan kerja keras dan dukungan dari semua elemen di Negara Indonesia, negara dengan pengunjung wisatawan hanya 5 juta pertahun ini bisa meningkat.

Lampu-lampu di kota itu tetap menyala, terang benderang menghiasi gedung-gedung perjudian yang megah. Tengok saja seperti MGM yang menyediakan kasino juga pub yang menampilkan band berkulitas, tempat itu penuh dikunjungi para pelancong Negara barat sana Eropa juga Amerika. Bule-bule betah untuk sekedar menikmati malam dengan minum-minum dan berdansa ataupun berjoget mengikuti irama lagu yang dilantunkan band. Gedung perjudian tertua bernama Lisboa, saya sempat masuk ke tempat itu dan melihat-lihat arsitek gedung itu yang memang sudah bergaya tua tetapi tetap berkesan mewah dengan hiasan lampu-lamu kristal yang besar dan bertali tali menghiasi langit-langit yang tinggi, juga escalator yang tinggi menghantarkan kita ke ruangan perjudian yang lebih besar. Dan masuklah saya ke arena perjudian setelah melalui pintu pemeriksaan. Terhampar luas meja judi dengan berbagai macam pilihan. Kita bebas memilih permainan antara Black jack, QQ, atapun memilih rolet dan lainnya, bebas selama kocek memungkinkan. Tetapi jangan salah saya perhatikan tepat diatas meja judi dipasang seperti bola lampu , padahal itu adalah kamera tersembunyi, terpasang hampir di setiap sudut dengan jarak begitu dekat dari lampu satu ke lampu lainnya.

Saya pun berkunjung ke tempat-tempat peninggalan bersejarah di Macao seperti gereja serta benteng-benteng dan pura-pura china juga kelenteng A-Ma semasa masih dijajah oleh Portugis selama 500 tahun. Kota seluas 27,3 km dengan jumlah penduduk sekitar 508.500 jiwa di tahun 2006. Secara geografis, Makau terletak di 70 km sebelah barat daya Hong Kong dan 145 km dari Guangzhou. Ia adalah koloni Eropa tertua di Tiongkok, sejak abad ke-16. Pemerintahan Portugal menyerahkan kedaulatan Makau kepada Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1999, sejak itu Makao menjadi daerah administratif khusus Tiongkok. Pendapatan per kapita penduduk Macao di tahun 2006 adalah US$ 28,4 ribu dengan angka pengangguran hanya sekitar 3,5 persen. Macao menjamin penduduknya untuk mendapakan gratis bersekolah dan mewajibkannya selama 15 tahun. Hal ini karena kepedulian pemeritah setempat terhadap masyarakat agar tidak terlena. Di Macao banyak penduduk yanga hanya sekolah sampai 9 tahun saja dan kemudian mereka bekerja di kasino-kasino dengan pendapatan rata-rata sekitar HK$18 .

Yang membuat saya heran adalah ketika saya mengunjungi sebuah gereja St Paul peninggalan jaman Portugis, gereja itu hanya tinggal puing-puing saja karena pada tahun 1935 terjadi kebakaran sehingga hanya tersisa dibagian depannya saja. Ada pula gereja-gereja lainnya yang bisa dikunjungi dengan arsitektur gedung-gedung gereja tua St Augustine, St Joseph dan St Lawrence. Bayangkan di Indonesia ada begitu banyak tempat wisata yang lebih bagus yang bisa kita kembangkan dan bernilai sejarah yang tinggi pula. Macao pintar mencari kesempatan walau sedikit dan akhirnya bisa mereka bisa menjual sebagai bangunan sisa sejarah yang patut dikunjungi.

Bagaimana dengan di Indonesia, apakah orang kita juga mau hanya sekedar berkunjung atau sedikit perhatian terhadap berbagai macam sejarah peninggalan bangsa kita. Yang saya tahu semangat berbelanja lebih tinggi daripada hanya sekedar berpikir dan membandingkan kemajuan bangsa lain dibandingkan dengan bangsa kita pada saat mereka melakukan perjalanan. Padahal potensi Indonesia lebih besar dari sekedar Macao, keindahan Indonesia saya jamin tidak kalah. Tapi infrastruktur yang kurang mendukung serta keamanan yang tidak terjamin, membuat negara kita tidak dijadikan daerah pilihan berwisata oleh bangsa lain. Dari tahun ke tahun wisatatawan yang datang ke Indonesia tidak beranjak dari angka 5 juta. Saya sangat prihatin.

Tentang anagustini

Semua bisa kecil tapi kalo semua berfungsi dengan baik, kenapa tidak.
Pos ini dipublikasikan di Prosa. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s