Orang-orang kaku

Suatu malam pada saat jam makan malam, saya memasuki rumah makan di sebuah mall. “Silahkan, berapa orang mba?”padahal jelas-jelas saya masuk rumah makan itu seorang diri, saya bilang ,” dibungkus saja”sambil ngeloyor ke arah pojok khusus untuk yang dibungkus. Mba kasir itu dengan setengah berteriak berkata, ” silahkan mau pesan apa?”, begitu ujar si kasir dengan wajah kaku dan berkesan formal tanpa senyum, “Nasi ayam”, singkat saja saya bicara. “Ada tambahan lain, atau ditambah pangsitnya, mungkin?”, saya menggeleng dan setelah kasir itu bicara lantang lagi, seperti diatur menyebutkan harga yang harus dibayar, kemudian sayapun melakukan pembayaran dan segera duduk, “silahkan tunggu”, lantang, seolah dia yang berkuasa dan saya merasa tidak jadi seorang pembeli, tetapi hanya sebagai seorang terdakwa yang menunggu panggilan untuk didakwa. Sambil menunggu, saya membaca koran Tempo hari itu yang sudah basi. Kejadian lain adalah saya masuk kesebuah perkantoran untuk menemui klien. Setelah sampai di lantai 4 gedung itu, saya menuju ke meja operator dan meminta untuk dipanggilkan seseorang yang saya tuju. Dengan wajah asam dan kemudian operator itu tersenyum ke arah belakang saya yang ternyata tamu lain. Sial, saya dikasih wajah asam sementara yang lain dia senyumin. Dia bicara dengan formalnya sekan-akan hidup ini penuh aturan dan kaku. Dengan senyum penuh kerelaan saya berkata, “bisa ketemu dengan Ibu “A”?, lagi-lagi dia berkata dengan kaku, ramah yang dibuat-buat dan senyum tak rela, ” Silahkan ditunggu”. Huh sebel, seperti orang penting saja, gumamku dalam hati. Saya pun menunggu di lobby itu, karena lama akhirnya saya bermaksud mengganti orang yang akan saya temuin jikalau orang sebelumnya yang saya maksud memang masih sibuk dan belum bisa keluar ruang kerjanya.Saya pun menghampiri meja si operator, belum sempat saya menyampaikan apa yang dituju , operator itu sudah langsung bilang ” Silahkan ditunggu saja”dan saya pun kembali duduk dimanis-maniskan dan setengah gondok. Karena lama menunggu, kemudian saya memutuskan untuk menghampiri lagi si operator dan berusaha menyampaikan maksud saya tadi dan berkata , ” begini mba kalau…..eh si operator itu sudah memotong omongan saya lagi, “Ibu “A” nya ada mba”, silahkan ditunggu saja, mata sayapun tidak kuat untuk menahan tatapan tajam ke arahnya, dan saya yakin dia merasakan tatapan tajam mata saya . Padahal kan saya bertujuan untuk menanyakan, jika memang masih lama, saya mau ganti orang yang ditemuin saja, sambil menunggu ibu “B” keluar. Tapi keburu dipotong. Dasar. Lalu karena bosan menunggu saya menelepon orang yang saya tuju lainnya dari handphone, tapi teleponku tidak diangkat dan sayapun terduduk lesu pasrah untuk menunggu. Tak lama kemudian ada dering telepon dari dalam tas, ternyata setelah diangkat, ternyata orang yang saya telepon itu menelepon balik, wah bagus neh, yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul, dan sayapun bilang bahwa saya sudah ada di lobby menunggunya . Dia akhirnya muncul ke lobby dan saya sedikitpun tidak menoleh ke arah operator itu. Akhir-akhir ini saya memang kesal dengan sesuatu yang berkesan basa-basi, kaku, diatur, dan kadang-kadang aturan itu tidak begitu penting tetapi hanya berkesan orang itu ingin dianggap penting. Atau itu merupakan aturan dan upaya untuk menjaga eksklusifitas dari sebuah perusahaan, ah entahlah yang jelas saya tidak begitu suka akan hal ini. Berkesan ada jarak dan tidak hangat, padahal bangsa kita terkenal dengan keramahannya tapi justru malah diciptakan kekakuan dan berkesan dibuat-buat. Aneh

Tentang anagustini

Semua bisa kecil tapi kalo semua berfungsi dengan baik, kenapa tidak.
Pos ini dipublikasikan di Prosa, Sosial Politik. Tandai permalink.

2 Balasan ke Orang-orang kaku

  1. tobadreams berkata:

    Lain kali Mbak Ana harus kasih sedikit pelajaran buat orang-orang sok kuasa seperti itu. Aku pernah melakukannya dengan sukses.

    Kebetulan yang akan aku temui adalah bigboss di perusahaan itu. Aku kan datang pakai jaket parasut, celana jeans dan sepatu kets; yang memang tidak masalah bagi si bigboss karena dia sudah capek dengan dress code. Sudah muilai “outer ring” aku seperti mau diusir, mana aku nggak bawa KTP lagi. Aku cuma bilang : bosmu mau ketemu aku, kalau nggak pengen menyesal mending cek dulu ke bos mu, kalau dia bilang nggak mau ketemu, aku langsung pulang.

    Dengan omongan standar seperti itu, aku berhasil membingungkan dan menyiksa enam lapis pemeriksaan yang harus dilalui sebelum ketemu si bigboss. Pas giliran sekretarisnya yang menerima aku, doi menyambut hangat dan ramah, padahal aku belum mengenal dia sebelumnya. Gituuu donggg!

    Hari itu mereka belajar satu pengalaman, bahwa tidak semua yang datang ke kantor mereka mau diperlakukan “sok resmi”; karena yang datang memang rada edan hehehe…

    Cheer up, Ana.

  2. kucingkeren berkata:

    ah..aku sih mending ditinggal saja na… kalau perlu, mereka pasti cari kita, atau masih banyak kan pilihan lain dan lbh manusiawi…ya gak….. halahhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s