Ternyata jauh

Ternyata jauh untuk ke puncak ,

tak paham kapan giliranku disana

Keinginan menjadi mimpi saja.

Merinding dan dingin di terik dan panasnya cahaya yang katanya abadi.

Kegagalan tak pernah berujung

Duh dingin dan membekukan hati.

Cucuran air dipelupuk-pun terasa beku ditiup dingin.

jalan entah dikanan, dikiri, didepan ataupun dibelakang.

Meringkuk disudut menjadi indah, berjalan pun serasa diseret,

Rapuh adalah sahabat kental.

Boleh beri aku sentuh agar tak temaram,

legakan jiwa agar tak tertatih.

Beri senyum agar sampai puncak .

Kembalikanlah kukuh itu.

Tentang anagustini

Semua bisa kecil tapi kalo semua berfungsi dengan baik, kenapa tidak.
Pos ini dipublikasikan di Sajak. Tandai permalink.

2 Balasan ke Ternyata jauh

  1. sungai berkata:

    kegagalan tak pernah berujung, baris yang paling kusukai

  2. kucingkeren berkata:

    untuk apa pergi ke puncak, kalau harus kembali lagi ke dasar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s