Tono

Siang hari bolong, tiba-tiba handphone Tuti berbunyi, “halo, iya saya sendiri oh iya, kenapa bu, hmmm, kapan ? oh….”, demikian pembicaraan itu mengalir . Tuti ternyata diminta untuk datang ke sekolah anaknya untuk mengambil rapot . Tuti adalah ibu dari seorang anak yang bernama Tono. Tuti bekerja di Jakarta, sementara Tono bersekolah di Bandung dan tinggal dengan kakek neneknya. Keadaan yang memaksa mereka sehingga harus berpisah jauh, tetapi apa boleh buat demi kelangsungan hidup, Tuti harus rela berpisah dengan anaknya, Tono. Mereka hanya berkesempatan bertemu dua hari dalam seminggu, selebihnya komunikasi mereka dilakukan melalui telepon.

Ternyata hari yang ditentukan untuk pengambilan rapot itu bentrok dengan jadwal presentasi Tuti dengan kliennya. Sesaat Tuti merasa kebingungan, hmm bagaimana yah, si buah hati atau tetap untuk datang meeting, Tuti mendiamkannya sesaat untuk berpikir. Memang sebetulnya rapot itu bisa diambil oleh kakeknya, tetapi tumben-tumbennya guru si Tono menelpon, interlokal khusus meminta secara langsung kepada Tuti untuk datang mengambil rapot Tono. Pastinya ada yang penting yang akan disampaikan oleh gurunya Tono selain rapotnya, demikian kegundahan itu merasuki pikiran Tuti. Akhirnya Tuti memutuskan untuk segera menelpon kliennya untuk mengundurkan jadwal meetingnya.

Acara seremonial untuk pembagian rapot dan wisuda disekolah Tono itu sungguh meriah. Panggung dengan dominasi warna hijau serta pernak-pernik yang ramai disetiap sudut, membuat acara ini terlihat menarik. Anak-anak kecil yang lucu itu naik ke pentas dengan menampilkan berbagai macam atraksi dan hiburan. Dari mulai drama, vocal group, tarian prosesi wisuda dan juga permainan musik seperti rampak perkusi, suling, angklung dan lain-lain. Acara yang disajikan memang cukup kreatif. Memperlihatkan bahwa sekolah ini tidak hanya mengedapankan aspek akademis saja, tetapi menggali dari aspek kecerdasan lain dari seorang anak.

Para orangtua muridpun bangga menyaksikan anak-anaknya berkreasi di atas pentas. Mereka tidak hentinya mengabadikan anaknya dari berbagai sudut. Para guru sibuk mengatur serta mempersiapkan anak-anak didiknya. Tuti duduk di depan panggung, menyaksikan pentas berlangsung sambil sesekali tersenyum melihat anaknya beraksi didepan pentas. Tak lama kemudian Tuti dipanggil oleh gurunya Tono untuk berkonsultasi .

Dalam konsultasi itu, ternyata Tono mendapatkan nilai yang fantastis, dengan jumlah total 946, tidak ada nilai tujuh dan semua nilainya diatas rata-rata kelas, Tono meraih peringkat pertama . Betapa bahagianya Tuti, dan ini merupakan kado yang istimewa untuk Tuti. Bayangkan saja jika Tuti tidak mendapatkan berita ini secara langsung dari gurunya, mungkin akan menyesal seumur hidup. Tuti merasa keputusannya menggeser waktu meeting adalah sangat tepat.

Gurunya Tono bercerita mengenai kecerdasan si Tono, bagaimana cara berpikir Si Tono yang melebihi teman-teman kelasnya, tentang betapa kritisnya Tono juga luasnya wawasan serta pengetahuannya dan mempunyai daya analisa yang tinggi. Sehingga terkadang obrolan Tono tidak nyambung dengan teman-teman sebayanya. Misalnya saja bagaimana Tono menjawab pertanyaan yang diberikan oleh gurunya dalam setiap ujian, Tono tidak pernah memberikan jawaban sederhana tetapi jawaban yang cukup panjang lebar. Gurunya Tono memaparkan ketika Tono diberikan pertanyaan dalam salah satu ujian. Pertanyaan yang diberikan cukup sederhana dan sebetulnya diperlukan jawaban yang sederhana pula misalnya , “Kenapa knalpot membahayakan?”. Tono menjawab dengan menerangkan kandungan kimia yang ada dalam asap, efek dari asap terhadap makhluk hidup sampai ozon yang bolong serta bagaimana bumi ini tertutup asap sehingga menimbulkan pemanasan global. Begitu menakjubkannya Tono, jawaban yang diberikan oleh seorang anak kelas dua sekolah dasar.Tutipun terenyuh sekaligus bangga terhadap Tono mendengarkan paparan dari gurunya. “Tono memang cerdas”, demikian Tuti bergumam dalam hatinya.

Tono diberi jabatan sebagai kepala perpustakaan di kelasnya. Di sekolah Tono, setiap kelas terdapat perpustakaan khusus, bukunyapun disesuaikan dengan tingkatan kelasnya. Gurunya memberikan jabatan itu dengan alasan karena Tono gemar membaca, dia selalu haus akan bacaan, bahkan pernah suatu ketika karena bahan bacaan dikelasnya sudah habis, Tono sampai mencuri-curi bacaan yang ada dikelas lain yang lebih atas. Hal ini pernah membuat gurunya marah, tetapi kemudian gurunya Tono sadar akan kehausan Tono dalam mendapatkan bacaan. Dan Tuti akhirnya tau bahwa Tono menjadi panutan bagi teman-temannya, karena semua temannya ingin seperti Tono yang gemar membaca yang membuat Tono berpengetahuan luas.

Usai acara Tuti bergegas pulang dengan membawa rapot serta surat pengumuman mengenai daftar ulang untuk tahun ajaran berikutnya. Sesampainya dirumah dan setelah beristirahat sebentar, Tutipun membuka surat- surat dari sekolah itu, sekaligus membacanya. Setelah membaca satu persatu, kepala Tutipun agak pening, karena ternyata dalam jarak waktu dua minggu ini Tuti harus mempersiapkan sejumlah uang untuk daftar ulang. Uang sebanyak dua juta rupiah, mungkin jumlah ini akan terjangkau bagi orang yang berkantong tebal, tetapi tidak demikian bagi Tuti yang bergaji pas-pasan. Tuti harus rela berpisah dengan Tono anaknya hanya untuk bekerja dengan mendapatkan gaji yang pas-pasan. Tetapi bagi Tuti, Tono telah memberikan spirit bagi hidupnya.

Yang jelas Tuti harus segera memeras otak mencari darimana mendapatkan pinjaman uang dalam waktu dua minggu ini. Demi Tono yang masih mempunyai banyak kesempatan di masa depan apalagi dengan potensi yang dipunyai Si Tono tentunya Tuti tidak akan menyia-nyiakan hal ini. Tidak mudah bagi Tuti untuk mendapatkannya tapi ini demi seorang Tono, sang buah hati.

Kalau saja biaya untuk sekolah yang berkualitas tidak semahal ini di Indonesia, tentunya bangsa ini akan banyak menghasilkan anak-anak yang cerdas . Seharusnya pemerintah memberikan subsidi yang lebih besar bagi sektor pendidikan. Sehingga pendidikan di Indonesia berkualitas dengan biaya yang lebih murah atau bahkan gratis. Sehingga tidak ada kejadian serupa yang dialami ibunya Tono.

Tentang anagustini

Semua bisa kecil tapi kalo semua berfungsi dengan baik, kenapa tidak.
Pos ini dipublikasikan di Prosa. Tandai permalink.

4 Balasan ke Tono

  1. fisha17 berkata:

    Yah terkadang seakan-akan hidup itu gak adil… tapi kita gak tau, ada apa dibalik ujian yang kita lalui.

  2. anagustini berkata:

    Iya memang bisa seperti itu keadaanya….

  3. nadi berkata:

    Eh, Si Tono itu anaknya anagusTINI ya?hihihihi….

  4. wah, apakah Tono masih suka dengan Tyranosaurus, mahluk purba yang mengerikan itu? Apakah dia sudah dibelikan buku Ensiklopedia anak-anak? Ada baiknya di rumah dipasang internet saja supaya tono bisa menjelajah dunia maya untuk memuaskan dahaga ilmunya.

    Tentang uang itu, sekarang nggak jadi masalah khan?

    Wah, bangganya punya Tono. Anya besok bisa seperti itu nggak ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s